Berjalan Bersama Pemimpin
Kalau saudara masih berada di dunia ini, masih tekun mendengarkan firman, setia ke gereja, mencatat kotbah, mencintai Tuhan, itu bagus !
Tapi tidak cukup !
Tuhan menginginkan saudara berada di titik maksimal saudara.
Bagaimana caranya kita bisa berada di titik maksimal dalam kehidupan kita? Di dalam alkitab hanya diceritakan 1 kisah.
Banyak orang yang didorong untuk mencapai titik maksimal, gugur di tengah jalan. Daud, orang yang cinta Tuhan ngga? Sekalipun dia belum dikenal, hanya menggembalakan 2-3 ekor domba.
Cinta Tuhan ngga? Iya. Di hari-harinya dia menggembalakan dombanya dia memegang kecapi dan dari hatinya mengalir pujian yang indah buat Tuhan. Daud belum mencapai titik maksimalnya sebelum dia bertemu dengan seseorang yang bernama Samuel.
Timotius juga anak yang manis, duduk di gereja.
Mari buka sebentar dalam Kis 16:1-3
"Paulus datang juga ke Derbe dan ke Listra. Di situ ada seorang murid bernama Timotius; ibunya adalah seorang Yahudi dan telah menjadi percaya, sedangkan ayahnya seorang Yunani. Timotius ini dikenal baik oleh saudara-saudara di Listra dan di Ikonium, dan Paulus mau, supaya dia menyertainya dalam perjalanan. Paulus menyuruh menyunatkan dia karena orang-orang Yahudi di daerah itu, sebab setiap orang tahu bahwa bapanya adalah orang Yunani. "
Perhatikan, Timotius waktu itu duduk mendengarkan kotbah Paulus.
Timotius belum mencapai titik maksimalnya di dalam Tuhan sampai dia dipertemukan dengan seseorang yang bernama Paulus.
Tapi ternyata, bukan hanya Daud yang diurapi oleh Samuel, bukan hanya Timotius yang menjadi anak rohaninya Paulus.
Selain Daud, Samuel juga mengurapi Saul.
Anak rohani Paulus selain Timotius itu ada Himenius dan Alexander. Tapi kita tahu, yang namanya Saul itu kandas hidupnya di tengah jalan. Himenius dan Alexander itu juga kandas di tengah jalan, bahkan Alkitab mencatat mereka berdua menghujat Tuhan. Mereka sama-sama diurapi, sama-sama ketemu dengan bapak rohani mereka, tapi kenapa hanya Daud dan Timotius yang bisa menerima warisan rohani dari bapak rohaninya?
Kenapa Saul, Himenius, dan Alexander gagal ?
Daud diurapi pada waktu masih muda, Timotius dipanggil juga pada waktu masih muda.
Apa kuncinya?
Mari kita buka Amsal 22 : 6
"Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu."
Tidak ada cara lain bagi anak muda untuk bisa menerima warisan rohani itu KECUALI kita belajar untuk menaati prinsip-prisnip ilahi yang pemimpin rohani kita telah tanamkan di dalam diri kita.
Prinsip yang ilahi, bukan duniawi. Kita sudah diajarkan berbagai macam ajaran, bagaimana hidup dalam roh, bagaimana menempatkan kebenaran di tempat yang tepat, bagaimana berbahasa roh, dll.
Kita menerima banyak, tapi tidak ada satupun yang dimanifestasikan. Kalau pemimpin rohani kita memiliki prinsip-prinsip rohani yang seperti itu, maka dari itu, ijinkan mereka melakukan pendisiplinan rohani.
Ijinkan mereka melakukan pendisiplinan rohani!!
Cuma itu caranya kita mencapai titik maksimal dalam kehidupan kita.
Pendisiplinan dengan penghukuman itu beda, kalau ada yang salah, seringkali kita bilang dia sedang didisiplin.
Pendisiplinan itu beda dengan penghukuman.
Pendisiplinan adalah suatu tindakan tegas yang dilakukan seseorang untuk menyingkirkan konsep pikir, sikap hati dan gaya hidup yang menghalangi visi Tuhan untuk digenapi dan pada saat yang bersamaan mulai menanamkan prinsip-prinsip nilai kehidupan dan gaya hidup ilahi yang menolong orang yang bersangkutan mencapai titik maksimal dalam segi kehidupannya.
Kegagalan Saul
Kita belajar dalam 1 Sam 13, perhatikan baik-baik kenapa Saul sampai kandas di tengah jalan. Tidak bisa menerima warisan rohani yang seharusnya dia terima dari Samuel, dan hanya Daud yang bisa menangkap dan menerima warisan rohani itu.
Waktu itu Filistin sedang mengepung Israel dan menurut hukum perang, ada perintah yang mengatakan begini, sebelum kalian maju berperang melawan musuh-musuhmu, wajiblah mereka berkumpul dan seorang dari antar mereka, seorang imam harus mempersembahkan korban kepada Tuhan untuk meminta penyertaan Tuhan. Itu hukum perangnya.
Dalam 1 Sam 13 ini yang terjadi, pada waktu itu Filistin sudah sedemikian banyak berkumpul dan orang israel mulai ketakutan, mereka melihat sangat banyak musuh di sekeliling mereka. Saul sebagai raja dan sebagai pemimpin, dia menghendaki rakyatnya tidak menninggalkan dia, yang terjadi rakyat israel sudah keburu ketakutan. Rakyatnya mulai meninggalkan Saul, melihat hal itu Saul mulai melupakan prinsip-prinsip yang pernah dikemukakan Samuel sebelumnya tentang hukum perang. Samuel pernah ngomong begini sama Saul, “Jangan pergi dulu, jangan mempersembahkan apapun kepada Tuhan, sebelum aku datang.” Saul begitu panik karena rakyatnya mulai meningglkan dia, melihat hal itu, Saul mulai melanggar prinsip-prinsip yang telah disampaikan Samuel sebelumnya.
Apa yang terjadi? Saul seorang raja, berani mempersembahkan korban di hadapan Tuhan. Menurut hukum perang, ITU SALAH BESAR.
Karena yang boleh mempersembahkan korban hanyalah seorang imam atau orang yang memiliki pengurapan imam. Seorang raja tidak boleh mempersembahkan korban. Tapi karena panik, terdesak, takut, orang israel mulai meninggalkan dia, takut wibawanya jatuh, takut kehilangan muka, Saul mengambil bagian yang seharusnya bukan bagiannya. Padahal prinsip itu sudah ditanamkan Samuel jauh-jauh hari sebelummnya.
Melihat hal itu, apa kata Tuhan?
Mari kita lihat dalam ayat yang ke 11-13
"Tetapi kata Samuel: "Apa yang telah kauperbuat?" Jawab Saul: "Karena aku melihat rakyat itu berserak-serak meninggalkan aku dan engkau tidak datang pada waktu yang telah ditentukan, padahal orang Filistin telah berkumpul di Mikhmas, maka pikirku: Sebentar lagi orang Filistin akan menyerang aku di Gilgal, padahal aku belum memohonkan belas kasihan TUHAN; sebab itu aku memberanikan diri, lalu mempersembahkan korban bakaran." Kata Samuel kepada Saul: "Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya."
Jelas sekali. Saul ingin menjadi pahlawan..........kesiangan. Sudah dikasih tau prinsip-prinsip ilahi, tidak mau ikut. Maka Tuhan katakan BODOH.
Samuel tidak berkata, “engkau tidak menuruti perintahku” tapi Samuel berkata, “engkau tidak menuruti perintah Tuhan”
Jelas, prinsip-prinsip yang ditanamkan Samuel kepada Saul adalah prinsip ilahi, kebenaran Tuhan sendiri. Tapi Saul melanggarnya begitu saja.
Ayat 14 Ditegur sekali, ngga kapok. Samuel itu sudah geleng-geleng kepala, ngaku raja tapi ndablegnya luar biasa. Buka 1Sam15 Perikopnya apa? Saul ditolak sebagai raja. Akhirnya Tuhan sendiri yang menolak Saul jadi raja. Apa yang dilakukan Saul? Saat itu orang Israel hendak berperang melawan Amalek. Perintah Tuhan kepada Saul adalah BINASAKAN SEMUANYA. Ternaknya, rajanya, pokoknya tidak boleh ada sisa. Tetapi si Saul ini lagi-lagi pikirannya luar biasa, ingin menolong Tuhan. Yang pertama dia melihat ada sapi gemuk-gemuk, ternak gemuk-gemuk, dia pikirnya baik, Saul berpikir, “Dari pada ini sapi-sapi gemuk disia-siakan, cuman dibunuh doang, mendingan disimpan untuk korban bakaran, mendingan dipersembahkan kepada Tuhan.”
Yang kedua Saul tetap membiarkan raja Amalek tetap hidup. Lihat, prinsip-prinsipnya semua dilanggar. Saul tidak membiarkan Samuel melakukan proses pendisiplinan atas dirinya.
Dia punya bapak rohani, tapi dia langgar semua prinsip-prinsip yang ditanamkan kepadanya. Dia berpikir, aku punya kehendak, aku punya kemauan, aku punya pola pikir, aku bisa jalankan sesuai kehendakku sendiri. Saul tidak mau menyelaraskan diri dengan apa yang Samuel ajarkan. Akibatnya apa? Fatal sekali. Jika saudara baca kisah selanjutnya dalam kitab Samuel, ketika Tuhan memunculkan Daud, Saul memiliki sikap iri hati, sering ngamuk-ngamuk sendiri, bahkan mengambil hak yang seharusnya milik Yonatan. Pada waktu itu Yonatan pergi berperang, menang. Tapi siapa yang meniup Sophar tanda kemenangan? Bukan Yonatan, tapi Saul, seharusnya kemenangan itu milik Yonatan, tapi Saul berbuat seolah-olah itu kemenangannya.
Timotius
Bagaimana dengan Timotius? Berbeda saudara. Timotius waktu itu ditawarkan oleh Paulus. Saudara mungkin berpikir Ah.....itu kan kebetulan saja, Paulus bertemu dengan Timotius. Tapi sebetulnya tidak ada yang kebetulan. Itu adalah rencana Tuhan bagaimana Timotius dapat bertemu dengan bapak rohaninya.
Mari kita lihat dalam 2 Tim 3:10
"Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku."
Pada waktu itu Paulus menawarkan dirinya, “Hmmm...aku melihat ada potensi dalam diri kamu, mau ngga kamu ikut aku?” Apa yang ditanamkan Paulus terhadap Timotius? Semua tadi itu. “Mau ngga saya tanamkan nilai-nilai ilahi yang ada pada diri saya kepada kamu?”
Timotius berkata, “OK! Saya mau” Tapi tidak sampai disitu. Begitu Timotius berkata SAYA MAU, apa yang terjadi?
Kita lihat di Kisah 16 : 3
"dan Paulus mau, supaya dia menyertainya dalam perjalanan. Paulus menyuruh menyunatkan dia karena orang-orang Yahudi di daerah itu, sebab setiap orang tahu bahwa bapanya adalah orang Yunani."
Dikatakan PAULUS MAU, bukan TIMOTIUS MAU.
Untuk menyertainya, dan supaya menyunatkan dirinya karena dia orang Yunani. Artinya mungkin seperti ini saudara, kita seringkali mendengar istilah bapak rohani dan anak rohani, namun ketika bapak rohani mulai INTERFENSI dan mulai masuk ke hal-hal yang paling pribadi, kita langsung mundur teratur perlahan-lahan.
Ketika bapak rohani kita mulai mengatur kehidupan rohani kita yang paling pribadi, kita berkata, “Hei itu kehidupan pribadi gua, elu ngga usah turut campur, gua punya hidup sendiri, elu mau apa!” “Ini loh, saat teduh begini” “Tapi kak, saya punya prinsip begini, elu mau apa?”
Begitu Timotius bilang YA, SAYA MAU, bagaikan senapan mesin Paulus langsung memberondong pertama! Kamu harus ikut saya. Kedua! Sunatkan dirimu.
Bayangin, baru saja ngomong IYA, Paulus langsung mengeluarkan 2 titah. Paulus langsung masuk ke dalam kehidupan pribadi Timotius. Ngapain ngurusin sunat segala? Itu pribadinya Timotius. Tapi Paulus masuk sampai sedalam itu.
Tapi intinya yaitu: Sunat adalah hak yang diberikan Tuhan kepada bapak rohani kita untuk melakukannya kepada kita. Kenapa harus ada sunat rohani?. Ada sejarahnya di kitab Kejadian. Pada waktu itu Allah berinisiatif membuat perjanjian dengan Abraham, Tuhan berkata sebagai tanda, sunat itu harus ada atas Abraham. Makanya ketika Ishak lahir, Tuhan berkata, “Sunat anak itu.” Siapa yang melakukannya? Abraham. Abraham diumpamakan sebagai bapak rohani kita. Ishak adalah diri kita, siapa yang menyunat Ishak? Abraham. Jadi siapa yang boleh menyunat diri kita sebagai perjanjian kita dengan Tuhan? Bapak rohani kita. Merekalah yang diberi hak untuk memberikan tanda sunat itu atas diri kita.
Kenapa harus ada tanda sunat ?
Tanda sunat adalah tanda KETAATAN MUTLAK. Tanpa tanda sunat, kita tidak akan mungkin bisa menggenapi apa yang sebetulnya menjadi tujuan hidup yang Tuhan telah tetapkan atas diri kita. Ini buktinya. Suatu kali Tuhan datang kepada Musa, Tuhan datang dalam bentuk api di semak belukar. Tuhan berkata pada Musa, “Pergi, bawalah orang israel keluar dari mesir” tetapi ketika Musa mau menaatinya, suatu malam Tuhan datang ke kemah Musa hendak membunuh Musa. Sangat bertolak belakang. Kenapa? Musa lupa menyunatkan anaknya, Tuhan tidak melihat ada tanda sunat dalam anak-anaknya. Tapi Ziporah langsung mengambil pisau batu, langsung menyunatkan anaknya dan menaruh kulit khatannya itu di kaki Musa. Melihat hal itu, Tuhan langsung mundur. Tanpa ada tanda sunat, kita tidak mungkin menggenapi rencana Tuhan atas diri kita.
Ijinkan bapak rohani kita memberikan tanda sunat di dalam diri kita. Sakit? Pasti. Bayangin saja, jaman dulu tidak ada pisau dapur yang tajam dari besi. Dulu hanya ada pisau batu. Tidak ada anestesi, bayangkan dulu tidak ada pisau bedah, adanya pisau batu. Suatu pergumulan yang luar biasa.
Mari kita lihat dalam Kej 26 : 12 - 13.
"Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya."
Bayangkan Ishak di negeri Gerar yang gersang, tapi kekayaannya berlimpah. Banyak orang salah kaprah, “Kan ini karena Ishak menabur jadinya ia menuai” Sebetulnya fokusnya adalah Tuhan sendiri. Tuhan menepati janjinya terhadap Abraham dan ishak, dan karena Abraham melakukan pendisiplinan rohani terhadap Ishak, dan dalam diri Ishak terdapat nilai-nilai ilahi yang sama yang dimiliki oleh Abraham, maka perjanjian yang digenapi atas Abraham, juga digenapi atas keturunannya yaitu Ishak sendiri.
Abraham dan Ishak BERJALAN BERSAMA-SAMA dalam ketaatan. Mereka memiliki konsep yang sama, memiliki gaya hidup yang sama, cara berpikir yang sama, nilai-nilai ilahi yang sama, sehingga perjanjian yang seharusnya milik Abraham, sekarang sah menjadi milik Ishak juga. Keberhasilan yang dimiliki Abraham, mulai dialami oleh Ishak. Kenapa saudara? Karena Ishak membiarkan bapaknya melakukan pendisiplinan rohani atas dirinya.
Buktinya dalam Kejadian 22 : 5 - 14
"Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: "Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu." Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: "Bapa." Sahut Abraham: "Ya, anakku." Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?"
Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham." Sahutnya: "Ya, Tuhan." Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku." Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. Dan Abraham menamai tempat itu: "TUHAN menyediakan"; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: "Di atas gunung TUHAN, akan disediakan."
Dibuktikan bahwa Abraham menaruh pendisiplinan yang kuat atas Ishak, Abraham tidak pernah bersandiwara. Dikatakan Abraham pernah cacat dalam menerima janji Tuhan, cacatnya dimana? Ismail. Dia pernah cacat dalam perjanjiannya dengan Tuhan, makanya dia tidak mau hal itu terjadi atas diri Ishak. Dan Abraham berhasil dalam melakukan pendisiplinan itu.
Buktinya adalah pada waktu Abraham harus mengorbankan anaknya Ishak. Dikatakan waktu itu Ishak sudah bisa memanggul kayu. Berarti Ishak masih anak-anak atau sudah dewasa? Sudah dewasa. Jadi ketika dia sudah mulai diikat tangannya, Ishak sebetulnya bisa berontak kepada ayahnya yang sudah tua. Tapi apa yang dilakukan Ishak? Dia punya KETAATAN MUTLAK atas ayahnya, dia sudah terlalu percaya kepada ayahnya, sampai ketaatan yang Ishak lakukan sampai di titik dimana dia sama sekali tidak memberontak kepada ayahnya. Dan karena Abraham dengan Ishak BERJALAN BERSAMA-SAMA
Dalam ayat 6 & 8
"Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama."
Maka apa yang ada di dalam diri Abraham sudah terimpartasikan kepada Ishak, dikatakan mereka selalu BERJALAN BERSAMA-SAMA, tidak ada yang lebih dahulu, tidak ada yang ketinggalan, mereka BERJALAN BERSAMA-SAMA. Ini kuncinya. Kemanapun Abraham pergi, dia selalu BERSAMA-SAMA dengan Ishak. Maka dari itu, nilai-nilai yang ada pada Abraham semuanya diserap habis oleh Ishak, sehingga dia mempunyai sikap KETAATAN MUTLAK terhadap Abraham, meski ayahnya sendiri mau mengorbankan dirinya. Nilai-nilai yang bapak/pemimpin rohani yang ditanamkan atas diri kita harus kita hidupi dalam KETAATAN MUTLAK, sehingga nilai-nilai mereka, cara-cara mereka hidup, gaya hidup mereka, bisa diimpartasikan di dalam hidup kita. Sehingga kita bisa menjadi CETAKANnya mereka.
Kesimpulannya adalah
"Ijinkanlah pemimpin rohani kita melakukan PENDISIPLINAN ROHANI atas diri kita sehingga nilai-nilai ilahi yang ada pada mereka transfer kepada diri kita. Dan BERJALAN BERSAMA PEMIMPIN dibutuhkan supaya gaya hidup pemimpin juga sebagai gaya hidup kita, dan supaya rencana Tuhan digenapi dalam diri kita, dibutuhkan juga KETAATAN MUTLAK."





0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home