Thursday, May 3, 2007

Lapisan Es Kutub Utara Kritis, Antartika Mencair Lebih Cepat( IPTEK )

WASHINGTON, SELASA - Seperti nasib di Kutub Selatan, lapisan es di Kutub Utara juga meleleh lebih cepat dari perkiraan semula. Bahkan, laporan terakhir menyebutkan kondisi saat ini sudah sangat kritis karena meleset 30 tahun dari prediksi sebelumnya.
Artinya, sejak tahun 2020, mungkin tidak akan ada es di kutub utara sepanjang musim panas. Sebelumnya para pakar es dunia memperkirakan kondisi tersebut baru akan terjadi pada tahun 2050. Prediksi tersebut sesuai dengan laporan Intergovernmental Panel on Climate Change.

Ted Scambos, seorang pakar es di Pusat Es dan Salju Nasional di Colorado, AS mengukur tren perubahan di lingkungan Kutub Utara menggunakan data satelit dan dikonfirmasi dengan pengamatan langsung di lapangan. Sedangkan IPCC menggunakan pemodelan komputer berdasarkan data-data perubahan komponen iklim yang direkam dalam jangka panjang. Meski dilakukan dengan metode berbeda, kesimpulan yang diperoleh Scambos dan koleganya yang dimuat dalam jurnal Geophysical Research Letters hampir sama dengan prediksi IPCC.
’Tidak adanya es di Laut Arktik sepanjang musim panas akan semakin memicu pemanasan global," ujar Ted Scambos, seorang pakar es di Pusat Es dan Salju Nasional di Colorado, AS. Ia mengatakan lapisan es yang ada saat ini ikut berperan mendinginkan Bumi. Menurutnya, tanpa es di Arktik, Bumi akan lebih cepat panas.
Hal tersebut dapat terjadi karena lapisan es yang berwarna putih memantulkan panas Matahari. Jika lapisan tersebut hilang atau sangat sedikit, daratan dan lautan akan menyerap panas lebih banyak sehingga suhu rata-rata Bumi tetap tinggi meski di musim dingin.
Ia sangat yakin kecenderungan ini terjadi karena efek gas rumah kaca dan tidak sepakat dengan pendapat bahwa perubahan ini merupakan bagian dari siklus iklim alam. Menurutnya, tidak pernah tercatat dalam sejarah adanya perubahan iklim yang sangat drastis seperti beberapa dekade terakhir.
Kecenderungan naiknya suhu global akan terus berlangsung sampai setidaknay 50 tahun ke depan. Mungkin satu-satunya hal yang dapat mencegahnya adalah letusan besar gunung berapi seperti dimodelkan dalam sejarah perubahan iklim.
"Kita tak dapat menolaknya saat ini. Saya kira masih cukup waktu dan upaya bersama sepanjang abad ini untuk mengatasinya, namun hal tersebut berarti kita harus segera memulai dan melakukan langkah perubahan besar-besaran," ungkapnya.


Es Antartika Meleleh Lebih Cepat

HOBART, SENIN - Kenaikan muka air laut dan melelehnya lapisan es di Antartika melebihi batas perkiraan para ahli. Ancaman besar bagi penduduk dunia?
"Hasil pengamatan berada di bagian teratas proyeksi, hampir mendekati ambang batas," kata ilmuwan kelautan Australia John Church. Laporan Perserikatan Bangsa-bangsa yang dirilis badan Panel Perubahan Iklim Antarpemerintah (IPCC), pada bulan Februari lalu memperkirakan muka air laut naik antara 18 hingga 59 centimeter selama seabad terakhir. Suhu rata-rata permukaan Bumi juga mengalami kenaikan antara 1,8 hingga 4 derajat Celcius dalam seabad.
Jika sampai menembus ambang batas, volume es yang meleleh di daratan Antartika dekat kutub selatan dan Greenland dekat kutub utara tidak akan terbendung. Hal tersebut akan menyebabkan kenaikan muka air laut hingga beberapa meter. "Ada skenario bahwa Antartika bagian barat akan hilang lebih cepat dan terjadi kenaikan muka air laut setinggi enam meter di sana," ujar Tas van Ommen, pakar gletser dari Divisi Antartika Australia.
Kawasan Antartika bagian timur yang relatif jauh lebih dingin juga meleleh. Informasi terbaru menunjukkan tinggi dinding es Tottenham dekat pangkalan Casey turun 10 meter dalam kurun waktu 15 hingga 16 tahun. Para ilmuwan menyatakan, berkurangnya ketebalan es di Pulau Heard yang terletak 1.000 kilometer di utara Antartika menunjukkan betapa seriusnya proses perubahan lingkungan yang terjadi di kutub.
Meski tidak sampai pecah dan membentuk gunung es raksasa seperti terbentuknya beting es Larsen seluas Luxemburg pada tahun 2002, Semenanjung Antartika mengalami dampak perubahan iklim yang pling serius di muka Bumi. Namun, terbentuknya pecahan-pecahan es dari Antartika yang bergerak dinamis ke perairan sekitarnya diperkrakan dapat mempercepat kenaikan muka air laut hingga 25 persen di atas prediksi IPCC.

Antisipasi
Untuk mengantisipasi kejadian ini, penduduk dunia terutama yang tinggal di bibir pantai perlu mempersiapkan diri. John Hunter, ilmuwan Australia yang intens mempelajari sejarah kenaikan muka air laut, mengatakan dinding-dinding penghalang di sekitar pantai mungkin perlu dipertinggi agar air laut tidak masuk ke daratan.
Banyak tempat yang terlambat melakukannya atau bahkan tidak bisa melakukannya sehingga terbenam. Hal ini telah dirasakan penduduk Inggris yang wilayah daratannya terys tergerus erosi air laut sehingga semakin mengecil. Di seluruh dunia diperkirakan ada sekitar 100 juta orang yang perlu dievakuasi karena tinggal di wilayah yang satu meter lebih rendah dari muka air laut.
Dampak kenaikan muka air laut sangatlah buruk karena setiap naik satu meter, air laut masuk ke darat sejauh 100 meter. Erosi tak dapat dicegah apalagi jika terjadi badai. "Anda tidak mungkin hanya membiarkannya saja bukan," tandas Hunter.

Sumber: reuters

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home

www.flickr.com
ycc_gama's photos More of ycc_gama's photos